Bingung mengapa batuk Anda tidak juga membaik walaupun telah
mengkonsumsi berbagai jenis obat batuk? Hal ini mungkin
dikarenakan Anda menderita gangguan saluran pernapasan lain dan
bukan hanya flu dan batuk biasa.

Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa gangguan medis yang
menyebabkan batuk Anda tidak juga sembuh, walaupun sudah
berlangsung selama lebih dari 2 minggu.

 

Batuk Rejan (Pertusis)

Walaupun penyakit ini sudah berhasil dieradikasi karena
penggunaan vaksin pada tahun 1940an, akan tetapi belakangan ini
penyakit ini mulai bermunculan kembali. Pada awalnya, gejala
batuk rejan biasanya ringan
seperti flu dan batuk biasa, seperti hidung meler, batuk
ringan, dan demam. Setelah seminggu, batuk akan menjadi semakin
hebat. Bila dibiarkan tanpa pengobatan, batuk rejan dapat
menyebabkan terjadinya pneumonia. Jadi, bila Anda
mengalami batuk hebat dan sulit berhenti, bahkan membuat Anda
muntah; segera periksakan diri Anda ke dokter. Diagnosa
biasanya ditegakkan berdasarkan pada hasil pemeriksaan darah
dan foto rontgen dada. Pengobatan yang biasa diberikan adalah
antibiotik.

 

Kanker Paru

Sekitar 65% penderita kanker paru mengalami
batuk kronik saat didiagnosa. Seringkali, batuk kronik
merupakan satu-satunya gejala dari kanker paru. Jangan langsung
merasa aman karena Anda tidak pernah merokok, karena sekitar
28% penderita kanker paru adalah orang yang tidak pernah
merokok.

Jadi, bila batuk Anda sudah berlangsung selama lebih dari 2
minggu, terutama bila disertai oleh adanya darah pada dahak,
suara serak, nyeri saat menelan, dan nyeri dada; segera
periksakan diri Anda ke seorang dokter.

 

Baca juga: 5 Tips Untuk Menghentikan Batuk di Malam
Hari

 

Pneumonia

Salah satu gejala utama dari pneumonia adalah batuk kering
persisten, yang cenderung memburuk pada malam hari. Jadi, bila
Anda mengalami batuk dan gejala seperti flu lainnya yang tidak
membaik setelah 10 hari, segera periksakan diri ke seorang
dokter. Bila Anda mengalami kesulitan bernapas, nyeri dada,
demam lebih dari 39 derajat celcius dan atau mengeluarkan dahak
berwarna hijau, kuning, atau kemerahan tidak perlu menunggu
hingga 10 hari dan segera periksakan diri Anda.

Diagnosa biasanya ditegakkan berdasarkan pada hasil pemeriksaan
fisik, foto rontgen dada, dan kadangkala CT scan dada.
Pengobatan yang biasa diberikan adalah antibiotika. Sebagian
besar penderita akan mulai membaik dalam waktu beberapa hari.

 

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK)
merupakan gangguan saluran napas yang akan
membuat penderitanya kesulitan bernapas. Ada 2 jenis PPOK,
yaitu bronkitis (peradangan pada
bronkus) dan emfisema (suatu kondisi di mana alveolus
mengalami kerusakan). Merokok dapat meningkatkan resiko
terjadinya PPOK.

Anda perlu mencurigai PPOK bila Anda merupakan seorang perokok
atau mantan perokok yang mengalami batuk kronik, yang
menghasilkan banyak dahak, terutama di pagi hari. Penderita
biasanya juga akan mengalami sesak napas, mengi, dan dada
terasa seperti diikat. Segera periksakan diri Anda ke seorang
dokter karena semakin dini pengobatan maka hasilnya pun akan
semakin membaik. Penderita PPOK wajib berhenti merokok.

 

Tuberkulosis

Tuberkulosis atau TBC merupakan
suatu gangguan saluran napas yang disebabkan oleh bakteri
mycobacterium tuberculosis. Resiko seseorang menderita TBC akan
meningkat bila ia memiliki daya tahan tubuh yang lemah
(misalnya karena menderita diabetes stadium lanjut,
HIV, atau kanker) dan atau baru
saja berpergian ke daerah resiko tinggi.

Segera periksakan diri Anda ke seorang dokter bila batuk Anda
sudah berlangsung selama lebih dari 3 minggu dan disertai oleh
nyeri dada, penurunan berat badan, fatigue (rasa amat sangat
lelah), demam, keringat malam, dan atau bila Anda mengalami
batuk darah.

Tanpa pengobatan TBC dapat berakibat fatal. Kuman dapat
menyebar ke seluruh tubuh Anda dan merusak tulang belakang,
persendian, otak, dan bahkan jantung Anda. Diagnosa ditegakkan
berdasarkan pada hasil pemeriksaan kulit atau darah.
Pengobatannya adalah kombinasi antibiotika yang diberikan
selama 6-9 bulan.

 

Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya
langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.

 

Sumber: womenshealthmag